Belajar mengevaluasi diri sedini mungkin

Saya punya seorang temen yang sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri, namanya muhammad nasir (@emnasirku).

Suatu saat kami sedang bercengkrama bersama dengan teman-teman yang lain, pada saat itu sore masuk waktu shalat ashar tiba, seperti biasa kami bergantian shalat. Saat nasir selesai shalat ashar, dia tidak langsung bergegas bergabung bersama kami kembali, tapi dia masih khusu’ dalam dzikirnya, hal ini sering sekali saya dapati kalau teman saya ini selesai shalat 5 waktu.

Karena penasaran terlalu seringnya saya melihat dia berperilaku seperti itu, saya coba tanyakan disela-sela obrolan dan candaan kami. “Cak” -panggilan saya kepadanya, “sampean itu kalo selepas shalat, dzikirmu lama banget, minta apa toh?” Candaku sambil agak penasaran. Jawabnya “ga ada dan ga banyak, hanya saya biasanya punya kesempatan melakulan evaluasi diri selepas shalat, rasanya nyaman sekali”. “Subhanallah” aku menyambut ucapannya. “Kamu melakukan itu 5x sehari???”. Saya merasa malu sendiri, saat teman saya yang satu ini mampu melakukan evaluasi diri hingga 5x sehari, saya tak pernah melakukannya, bahkan memikirkannya sama sekali.

Berangkat dari situlah saya saat ini tengah belajar memulai hal yang sama, evaluasi diri. Mulai dengan tidak ingin mengomentari setiap kritikan dan saran yang tersampaikan oleh lingkungan sekitar untuk saya terima, hingga bermuhasabah terhadap apa-apa yang sudah saya lakukan. Agar saya mampu belajar lebih banyak tentang makna hidup bersama untuk saling menghormati dan tidak menyinggung satu sama lainnya.

Terima kasih teman, sahabat, kawan, yang selalu mengingatkan saya tentang banyak hal, saya merasa semakin banyak kekurangan. Bantu saya menjadi lebih baik. Amien…

Posted in Personal Tagged with: