Penentuan Bulan Dalam Kalender Hijriyah

Hilal (Bulan Sabit)Mengutip pernyataan Ust. Mohamad Iqbal Santoso (Ketua Dewan Hisab dan Rukyat PP. PERSIS – Pimpinan Pusat Persatuan Islam) tentang metodologi anjuran ijtihad untuk menetapkan bulan dalam kalender hijriyah dari wall FBnya beliau, kutipan berikut juga saya ambil dari milis JarKom PERSIS. Berikut adalah penjelasan Ust. Iqbal Santoso:

=============================================
Hisab dan Rukyat itu berkembang, tidak mungkin ada Hisab tanpa Rukyat, begitu pula Rukyat yang baik memerlukan panduan hisab. Ahli hisab sering membuktikan keakuratan hisabnya dengan Rukyat. Selanjutnya akurasi hasil hisab sering diperbaiki/dikoreksi berdasarkan Rukyat, sehingga dalam kitab-kitab hisab dari setiap aliran/madzhab ilmu hisab selalu ada ta’dil (koreksi). Begitu pula pada beberapa program hisab yang menggunakan komputer ada up date/up grade.

Muhamadiyah dan Persatuan Islam (dipelopori KH E Abudurrahman) semula menggunakan prinsip Ijtima qobla ghurub, yang menetapkan awal bulan dimulai jika jitima terjadi sebelum maghrib. prinsip ini menggunakan kaidah “ijtima’in-nayyiroini itsbatun baina syahrain” Ternyata pada beberapa kondisi ditemukan pada saat maghrib (setelah ijtima) bulan terbenam mendahului matahari. Kemudian Persis berubah menggunakan prinsip wujudul hilal (tepatnya wujudul-qomar). Kelemahan wujudul hilal adalah tidak didukung argumentasi ilmiah dan dalil yang kuat. Kriterianya sangat sederhana, belum mencerminkan kriteria BULAN sebagai HILAL, yaitu hanya berdasarkan irtifa bulan positif saja, tidak dilengkapi kriteria lainnya ataw didasarkan pada munculnya BULAN bukan kemunculan HILAL. Persis kemudian mengoreksi penetapan awal bulan berdasarkan prinsip imkanur-rukyat dengan kriteria kesepakatan MABIMS, tetapi mulai tahun 2009 kriteria MABIMS sudah tidak lagi digunakan Persis.

PERSIS menetapkan awal bulan menggunakan Hisab dan Rukyat secara setara, bisa digunakan bersamaan atau salah satu.

Rukyat merupakan sunnah fi’liyyah Rosulullah yang sekarang sudah mengalami perkembangan misalnya penggunaan alat bantu, dulu NU hanya percaya pada hasil Rukyat saja tetapi NU sudah beberapa kali menolak hasil Rukyat yang bertentangan dengan Hisab (iptek)

Pada zaman Rasulullah walaupun bulan berada positif diatas ufuk tetapi kalau “gumma” bulan dalam posisi tersebut oleh Rasulullah tidak dianggap hilal maka bulan berjalan ditetapkan 30 hari (istikmal)

Bidgar dakwah Jakarta Barat : berdasarkan pengamatan (rukyat) tidak pernah ada yang bisa melihat hilal dengan ketinggian kurang dari 3 derajat, sehingga irtifa hilal kurang dari 2 derajat sudah bisa dipastikan tidak mungkin terlihat.

Berdasarkan literatur dan hasil penilitian yang saya baca, saya berpendapat hilal tidak mungkin terlihat jika irtifanya kurang dari 4 derajat, saya sependapat dengan Prof. Thomas Djamaluddin bahwa bulan bisa disebut hilal jika irtifanya lebih dari 4 derajat serta jarak sudutnya lebih dari 6,5 derajat.

Menetapkan awal bulan adalah berdasarkan PENAMPAKAN HILAL bukan berdasarkan KEMUNCULAN BULAN DIATAS UFUK saja (seperti yang ditetapkan muhammadiyyah). Bulan disebut hilal bukan hanyaberdasarkan irtifa (ketinggian) semata, tapi harus memperhitungkan pulabeberapa variabel lainnya seperti jarak sudut (elongasi), umur bulan, iluminasi (prosentase piringan bulan yang tercahayai matahari), dll.
Kriteria hisab didasarkan pada pengalaman rukyat, tidak mungkin ada ilmu hisab/falak tanpa rukyat. Jika ada yang mengaku melihat hilal dengan posisi lebih rendah dari kriterianya, pengakuan tersebut bisa diterima dengan syarat ada rekaman citra hilal atau terlihat dari beberapa tempat/orang. Tetapi jika hanya pengakuan saja tanpa dukungan bukti kesaksian tersebut harus ditolak. Nahdatul Ulama pernah menolak kesaksian hilal yang tidak rasional.
=============================================

Semoga bermanfaat…

Posted in General, Personal Tagged with: