Menutup Diri Terhadap Fanatisme

Kita semua tahu, bahwa didunia ini selalu ada pilihan, meskipun pilihan tersebut tidak banyak, namun tetap saja pilihan itu ada. Bahkan saat kita memutuskan untuk tidak memilihpun merupakan sebuah pilihan bukan?

Satu hal yang secara tidak sadar maupun sadar kita lakukan adalah, saat menentukan pilihan, kita lantas terjebak dalam fanatisme pilihan kita, padahal kita semua sepakat tidak ada yang sempurna didunia ini. Jika seseorang misalkan sudah memilih sebuah partai politik, susah sekali melihat partai politik lain, atau saat orang memilih pacar, pokonya yang lain itu jelek, rumek, dan penuh dengan “kejahatan” fisik, hehehehe…

Sebuah fanatisme cenderung menjebak kita untuk melihat sisi lain secara tidak bijak (seperti tidak ada pintu ijtihad, menurut sayah), bahkan lebih sering melihat sisi lain sebagai bagian dari sisi negatif yang harus dihindari. Fanatisme sangat memenjarakan kita terhadap pilihan lain diluar sana yang mungkin saja pilihan diluar sana lebih mewakili kita. Terjebak dalam fanatisme golongan, terjerumus dalam fanatisme sektarian justeru akan berdampak buruk pada hubungan horizontal. Cenderung dapat memicu ketegangan dan ketidaknyamanan.

Lantas bagaimana kita menyikapi sebuah fanatisme? saya tida akan menguraikan teori siapa dengan logika apa ataupun gambaran apa, saya hanya ingin menjabarkan apa yang ada dalam pikiran saya saja, berdasar teori logika sendiri. Dalam satu sisi, fanatisme bukan hal yang buruk, fanatisme sah-sah saja manakala porsi dan tempatnya tepat, misalkan fanatik terhadap perdamaian, pokonya gimana caranya harus damai (diluar damai urusan hukum, hehehe).

Bagi saya, saya mencoba untuk tidak terjebak dalam fanatisme (fanatik anti fanatisme, hehehe). Berusaha menggali informasi secara berimbang, jika tidak juga menemukan informasi berimbang, maka saya kurangi satu sisi informasi. Bagi saya, semua memiliki kesempatan, semua memiliki kemungkinan, semua memiliki sisi sudut pandang, membuka diri, membuka pikiran. Mendengar, lebih baik…

Lantas bagaimana jika kita berada dalam lingkungan yang penuh dengan fanatisme? ini sering saya dapati, entah itu fanatisme golongan, fanatisme organisasi bahkan fanatisme terhadap satu ajengan. Bagi saya, bersikap wajar saja tanpa harus memoles lantunan kata-kata kita. Toh paling tidak, itulah yang sudah saya lakukan pada saat ada dilingkungan yang penuh dengan fanatisme.

Ini hanya sebuah pendapat manusia yang jauh dari kata sempurna, andapun punya pandangan sendiri bukan? silahkan share saja…

Semoga bermanfaat…

Posted in General, Personal