Belajar Menahan Diri di Jalan Raya

Sore itu saya pulang kantor menuju TIM (Taman Ismail Marzuki) untuk sejenak ngopi bareng sama kerabat sambil melepas lelah dan berdiskusi kecil dan ringan tentang banyak hal yang ternyata bagi saya sangat bermanfaat. Gus Fahmi, demikian saya memanggilnya sering sekali memberikan sudut pandang baru tentang beberapa hal yang kami diskusikan, beliau adalah putera seorang Kyai NU di Semarang, sehingga saya memanggil dia dengan panggilan Gus, kangen juga diskusi sama Gus Mujib. Ada pertanyaan Gus Fahmi yang tiba-tiba saja terucap saat kami pulang bareng dengan sepeda motor, “Kalo kamu disalip dengan cara kasar ato diserempet orang, apa yang bakalan kamu lakukan?”

Setiap kita sangat mungkin banyak yang tidak suka dengan perilaku kekerasan, meski sebagian kecil lagi sangat suka dengan langkah kekerasan. Namun secara manusiawi, silahkan kita jujur pada diri sendiri, siapa yang tega jika salah satu anggota keluarga kita dianiaya secara fisik oleh orang lain. Perilaku balas dendam merupakan ketidakinginan atau ketidaksukaan kita dianiaya orang lain, namun langkah balik yang diambil justeru dengan kekerasan.

Menjawab pertanyaan Gus Fahmi, bagi saya perilaku kasar dijalanan sangat tidak bisa dihindari bagi orang lain meskipun itu sangat membahayakan orang lain (padahal berharap hukum lalu lintas dididikan kepada masyarakat lebih baik lagi), tinggal kita yang menyikapi saja, beragam kepala dengan beragam emosi mengisi jalanan. Sayapun langsung menjawab, “Ya biar saja Gus, ga ada alasan saya untuk membalas”, “nah kalo sampe dipepet-pepet nempel?” ucap Gus Fahmi melanjutkan, “tetep Gus, ga ada alasan kuat saya melakukan tindakan kekerasan balik, jika itu dianggap sebuah kekerasan” jawab saya. “Lah, lantas yang bagaimana yang membuat kuat alasannya kamu membalas?” tanya Gus Fahmi. “bagi saya, jika tangan orang lain sudah nempel dikulit saya, barulah saya mengambil tindakan” sanggah saya spontan.

Perlu dicatat, obrolan diatas dilakukan dimotor dan sangat tidak diijinkan ditiru, ngobrol dimotor sangat berbahaya, kecepatan tempuh pada saat obrolan ini terjadi adalah 40 s.d. 50 km/jam dan mepet sebelah kiri jalan dengan mengikuti ritme angkot tanpa mendahuluinya. Saya tidak akan menyimpulkan apapun tentang obrolan diatas bersama Gus Fahmi. Sangat disarankan kita tetap waspada dalam berkendaraan, tetap tenang dan tidak disarankan emosi, pelankan atau berhentilah jika ada yang menyebrang, toh berhentinya pun tidak memakan waktu 5jam bukan?.

 

Semoga bermanfaat.

Posted in Personal