Memisahkan Nilai Kemanusiaan, Fiqih Keagamaan dan Ideologi

Ahir-ahir ini banyak pemberitaan tentang kekerasan, mulai dari pengkerdilan mereka yang kecil baik secara ekonomi maupun secara psikologi atau pendidikan dan hukum sampai pembantaian dalam arti sebenarnya kepada mereka yang tidak memiliki kekuatan apapun, entah itu kekuatan ekonomi, sosial apalagi politik. Tontonan televisi kita terlalu mudah pula mengekplorasi kekerasan, seakan ini menjadi sumber berita dengan rating tinggi tanpa menghiraukan efek yang timbul dimasyarakat. Kekerasan sering terjadi karena adanya pemaksaan kehendak, pemikiran, ideologi, ekonomi bahkan politik. Pelakunya?

Pelaku kekerasan juga ya masyarakat secara horizontal, mengorbankan segala bentuk kemampuan pelaku hanya dengan iming-iming mereka akan ikut serta dengan kami, atau mereka akan diam. Hampir setiap kita memahami, bahwa kekerasan bukan jalan menyelesaikan masalah sekalipun kita tidak berpendidikan tinggi. Kekerasan hanya menimbulkan masalah baru dengan kekerasan kembali hingga kerusakan secara fisik.

Pemaksaan kehendak atas nama agama, menganggap yang tak sefaham menjadi kafir atau mereka yang bukan golongan kita termasuk halal untuk diganggu baik kehormatan hingga fisik mereka merupakan akar dari terjadinya kekerasan horizontal yang padahal hal semacam perselisihan faham baik fiqhiyyah ataupun hukum keagamaan bersifat debatebel dan bukan hal tidak bisa diselesaikan.

Kekerasan sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, hak asasi manusia dan dasar-dasar sendi kehidupan, apapun alasannya, kekerasan berarti telah memutus hak orang lain untuk memiliki hak. Jangan pernah berpikir hanya hak kita saja yang harus diperhatikan, hak orang lain termasuk hak orang yang tidak sefaham dengan kita. Sangat tidak ada hubungannya antara kekerasan baik psikis maupun fisik dalam menegakan keadilan ala pemahaman fiqih ataupun pemahaman hukum yang kita miliki.

Beberapa hari lalu saya terlibat diskusi di beberapa forum, dan terjadi beberapa kekerasan kata-kata termasuk kekerasan psikis. Ada cercaan yang tercantum, ada cacian yang tertulis bahkan ada ajakan yang provokatif berkaitan dengan perbedaan pemahaman ideologi, fiqih dan keyakinan hukum, yang padahal apa yang kita yakini belum tentu benar seutuhnya. Mengajak kita untuk tidak simpatik kepada mereka yang menjadi korban kekerasan yang akan tampil di televisi karena perbedaan diatas, ini malah ajakan yang tidak simpatik dan tidak mencerdaskan.

Kita harus faham membedakan mana nilai-nilai dasar kemanusiaan, mana dasar-dasar pemahaman fiqih maupun mana yang menjadi keyakinan hukum kita. STOP kekerasan terhadap kemanusiaan, selain tidak mencerdaskan juga tidak membuat orang simpatik. Jauhkan ideologi ketika kita berbicara nilai kemanusiaan, lempar jauh perbedaan fiqih, buang keyakinan hukum manakala kita berhadapan dengan kemanusiaan.

Ini hanya gambaran kejenuhan penulis terhadap banyaknya kekerasan yang berdasar agama, memecah persaudaraan dan hanya meninggalkan dendam secara horizontal yang tak berkesudahan.

 

Semoga bermanfaat…

Posted in Personal