Tentang Perayaan Tahun Baru dan Dasar Pemahaman Kelembagaan

Tahun baru 2012 baru saja berjalan beberapa hari, namun demikian banyak dikalangan kita yang beragama islam turut pula merayakan. Dan agar terlihat berimbang, maka tahun baru hijriyah juga dirayakan oleh umat islam secara serentak diberbagai tempat. Lantas apakah kita harus turut juga merayakan tahun baru baik itu hijriyah maupun masehi? atau kita tetap mengurung diri tanpa harus bergabung dengan masyarakat lain? lantas apakah kita bergabung dengan masyarakat lain yang merayakan kita juga menjadi bagian mereka?

Saya pikir sebuah perayaan adalah hak setiap orang, tidak bisa diikat oleh sebuah kelembagaan. Saya sebagai kader Pesantren Persatuan Islam (PERSIS) dimana lembaga ini secara resmi menyatakan untuk anti merayakan dan mengucapkan selamat baik tahun baru masehi maupun tahun baru hijriyah memiliki pandangan yang tidak langsung sejalan dengan “fatwa” yang dikeluarkan, tapi juga tidak sefaham dengan adanya perayaan semacam ini.

Saya hanya ingin mengambil sudut lain dari pertentangan pemahaman perayaan itu sendiri, sebuah perayaan lebih cenderung menjadi media show of seseorang atau golongan, entah itu dalam bentuk materi maupun dalam bentuk lain yang non materi. Menjadi lumrah manakala misalkan, perayaan tahun baru menjadi media ajang penampilan materi seseorang, misal dengan merayakan di Bali atau dengan berbelanja kembang api/petasan yang bernilai tinggi.

Tapi juga sebuah hari perayaan menjadi hari yang di Indonesia akan diliburkan, dari sisi ini akan menjadi kesempatan sebuah keluarga untuk dapat berkumpul dan berlibur bersama, entah itu hanya berkumpul dirumah, atau hanya sekedar keluar untuk melihat keramaian dan mengenalkan kepada anak tentang banyak hal diluar sana. Kita tidak bisa memvonis sebuah motivasi seseorang ketika berada diluar rumah lantas digolongkan kepada mereka yang turut merayakan dan menjadi bagian dari golongan yang merayakan, sebuah motivasi kehadiran seseorang dalam sebuah perayaan adalah sangat pribadi.

Lembaga pemahaman fiqih saya secara resmi mengeluarkan “fatwa” anti perayaan semacam ini, bagi saya sebuah lembaga keagaam semacam PERSIS memang wajib menyatakan diri melarang sebuah perayaan, ini menggambarkan bahwa kelembagaan ini sangat konsisten dengan apa yang menjadi kekuatan hukum yang difahami, dan ini dapat pula menjadi dasar bagi anggotanya untuk tidak turut serta dalam perayaan. Bahwa PERSIS adalah lembaga formal, maka harus ada fatwa/hukum formal juga sebagai pegangan semua anggotanya. Terlepas hal itu akan dipegang secara penuh oleh anggotanya ataukah adanya ketidaksepahaman dengan fatwa/hukum formal lembaga tersebut. Maka secara kelembagaan PERSIS akan konsisten tidak merayakan hingga ke tingkat hirarki organisasi terbawah.

Saat ini saya tengah berada disebuah perusahaan swasta dan memiliki klien/partner bisnis/partner kerja yang tidak sepenuhnya sefaham fiqihnya bahkan seagama, sebuah perayaan bagi klien, misal perayaan tahun baru, sangat berarti, bagi mereka perayaan ini memiliki dampak spiritual dan motivasi untuk membangun sebuah harapan atau apalah ungkapannya yang menyatakan bahwa harus ada energi baru pada tahun baru. Lantas bagaimana saya menyikapi klien yang seperti ini? Secara kelembagaan perusahaan kami menyatakan ucapan selamat, tapi tidak secara pribadi, ada batasan yang harus tetap saya pegang. Terkecuali klien datang secara langsung dan menyatakan ucapan selamat tahun baru, atau menelepon menyatakan ucapan selamat tahun baru, lantas apakah saya akan diam saja dan menjelaskan ketidaksetujuan saya dengan pengucapan selamat tahun baru? tentulah tidak, hanya mengucapkan jika ada yang mengajak, dan itupun tidak seluruhnya, misal ada sms selamat tahun baru, tidak akan pernah saya balas.

Jadi? untuk anda yang berada dilingkungan yang kuat dengan keagamaan dan lembaga formal keagamaan, tentulah sangat leluasa menyatakan diri berada dibasis rombongan atau golongan mana, nah untuk kami yang berada jauh dari lingkungan lembaga keagamaan kami harus banyak bersiasat dan mencari sudut pandang lain untuk menjaga sebuah harmonisasi. Bukankah islam itu rahmatan lil ‘alaamin?

 

Semoga bermanfaat.

Posted in Personal
%d bloggers like this: