Mengembalikan Niatan Pada Semestinya

susun ulangBeberapa waktu belakangan ini, penulis merasa ada yang hal yang terasa mengganjal dan sangat membuat gelisah, cukup menyita waktu pemikiran dan konsentrasi mendadak menjadi sajian yang terpampang. Ini bukan tentang hitam dan putih, bukan pula tentang sebuah langkah atau malah bukan tentang pilihan hidup selayaknya mereka yang tengah mengalami kegalauan. Bukan, bukan itu, lah lantas apa ya?

Ini tentang sebuah awalan, awalan sebelum melangkah, awalan sebelum memilih bahkan ini awalan sebelum menentukan sikap. Awalan dengan ketulusan, awalan dengan keyakinan dan awalan dengan keikhlasan. Ternyata tidak semudah menyampaikannya. Ya, ini tentang sebuah niat. Niat kuat yang akan banyak mempengaruhi sikap, pilihan, langkah juga keyakinan.

Bagi penulis, sebuah niatan sangat mempengaruhi, sebuah niatan sangat mewarnai. Dan itu yang tengah penulis alami saat ini. Mengembalikan niat ketempat yang semestinya, dengan keyakinan, dengan ketulusan, dengan keikhlasan.

Belakangan ini, beberapa langkah, beberapa pilihan, beberapa sikap yang penulis tampilkan seolah tidak berdasar pada sebuah niatan yang semestinya, niatan pada langkah belakangan ini terasa banyak dipengaruhi kepentingan sesaat materi duniawi, niatan yang seharusnya menjadi loncatan pertama untuk melangkah, menentukan sikap, memilih ataupun meyakini satu hal terlalu banyak dipengaruhi kepuasan saat ini, kepuasan jangka yang sangat pendek.

Malam ini, penulis seolah mendapat teguran keras untuk berpikir ulang tentang semua niatan yang saat ini menjadi dasar langkah, pilihan maupun sikap penulis. Sahabat sekaligus juga keluarga SensaZi semalam begitu luar biasa dalam menapak langkah tanpa beban hanya dengan sebuah amunisi niat yang tulus, niat yang ikhlas, niat yang tidak disertai embel-embel apapun dan itu berdampak pada langkah sahabat penulis sekalian. Langkah mereka begitu ringan, tak secuil pun tampak niatan materialisme duniawi mewarnai. Semuanya dikembalikan pada sebuah keyakinan bahwa mereka tidak sendiri, mereka memiliki Tuhan yang akan menampakkan kuasanya. Sahabat penulis sungguh yakin dengan keikhlasan bahwa Allah SWT adalah pilihan tepat. Allah dulu, Allah lagi, Allah sekarang.

Pesan orang tua dari salah satu sahabat penulis menyampaikan, jangan takut 4 hal, 1) Jangan takut sekolah/belajar, 2) Jangan takut nikah, 3) Jangan takut punya anak, dan 4) Jangan takut punya rumah. “Gusti Allah sudah membuat perut seseorang, sudah dengan jatah isinya!” kalo sudah begini, apa yang ditakutkan? Apa harus kita mewarnai niatan kita dengan hal yang tidak semestinya?? Allah dulu, Allah lagi, Allah sekarang.

(jazakumullah khoeron katsiero Gus Fahmi, Bang Ozie, juga Bung Taufiq atas banyak inspirasi)

Wallahu a’lam…… Penulis pun dalam tahap belajar…..

Semoga bermanfaat…..

Posted in General, Personal Tagged with: , ,