Kurikulum 2013, Ya/Tidak? [opini]

Beberapa hari ini penghentian penggunaan kurikulum 2013 untuk tingkat pendidikan dasar menengah menjadi trend headline pemberitaan, penghentian sendiri ditetapkan oleh kementrian pendidikan dasar menengah dan kebudayaan melalui mentrinya Anies Baswedan. Selama pemberitaan tersebut, yang dapat penulis tangkap adalah bahwa kurikulum 2013 (lebih dikenal dengan nama KURTILAS) seperti sebuah objek yang menyulitkan dan harus dihentikan, benarkah?

Entah memang keterbatasan penulis menangkap maksud dari penghentian ini, atau adanya keterbatasan pengetahuan penulis terhadap memahami KURTILAS sendiri atau mungkin memang pembaca juga melihat hal yang sama. Disini penulis hanya akan menyampaikan sebuah opini tentang KURTILAS menurut pengetahuan yang penulis miliki dan mohon koreksinya sebagai bahan diskusi.

Menurut informasi yang penulis dapatkan, Mentri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah memberikan alasan bahwa penghentian KURTILAS didasarkan pada ketidaksiapan penyelenggaraan dan ketergesa-gesaan penerapannya. Selain juga dari informasi yang penulis dapat, bahwa kurikulum 2013 menurut mentrinya saat ini tidak terdokumentasi dengan baik dan tidak adanya bahan timbangan perubahan dari kurikulum sebelumnya (kurikulum 2006 a.k.a KTSP)

Lantas, sebenarnya seperti apa sih kurikulum 2013 ini yang banyak jadi gunjingan pemberitaan beberapa hari ini. Apakah tidak ada sisi atau hal yang positif? Dari informasi yang penulis pelajari, kurikulum 2013 diterapkan resmi sejak Juli 2013 dan disosialisasikan sebelumnya sejak Januari 2013. Hal utama yang ada dalam KURTILAS adalah pada aspek penilaian dan pembentukan karakter siswa karena siswa dilibatkan aktif secara penuh dalam kegiatan belajar mengajar. Penilaia sendiri meliputi aspek pegetahuan, keterampilan dan sikap, dimana ditujukan agar ada deskripsi yang membedakan antar siswa meskipun nilai pengetahuannya sama. Sehingga penilaian yang diadopsi oleh kurikulum 2013 ini dalam satu sisi memberikan beban tambahan kepada para pengajar yang tidak pernah terbiasa.

Beberapa hari lalu penulis menemukan satu aplikasi yang memudahkan dan sangat membantu para pengajar memberikan penilaian ala kurikulum 2013, dan dari aplikasi ini penulis menyimpulkan, betapa mudahnya kurikulum 2013 ini yang justru meringankan beban walikelas dan memberikan kesempatan kepada para pengajar untuk mengenal lebih dekat kepada para peserta didiknya, sehingga proses belajar mengajar tidak melulu hanya berkutat dengan aspek nilai angka pengetahuan dan formalitas.

Terkait dengan pernyataan Anies Baswedan selaku Mentri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah yang menyampaikan seperti hal diatas, justru penulis melihatnya berbeda. Terlebih bahwa pernyataan tersebut seharusnya tidak keluar dari sang mentri yang justru seharusnya sebagai pemerintah yang melengkapi kekurangan dan melanjutkan sebuah keputusan pemerintah sebelumnya yang sudah melalui tahapan LITBANG Kemendikbud sebelumnya. Tidak lantas menyalahkan karena tidak terdokumetasinya dengan baik atau ketidaksiapan dan sebagainya.

Selain pula, ada hal yang buat penulis merasa terganggu saat kebijakan penghentian ini tidak merata, saat penghentian tidak dilakukan semua, tetapi produksi materi bahan ajar dan kelengkapannya malah dihentikan, ini malah mengganggu yang masih menjalankan. Kenapa tidak dihentikan saja semua. Toh yang penulis temui sampai saat ini juga yang sering menyampaikan persetujuannya dihentikan kurikulum 2013 adalah para pengajar yang belum banyak dibekali informasi yang seharusnya.

Ini hanya sebuah opini, mudah-mudahan ini bisa menjadi bahan dasar kita berdiskusi lebih lanjut, mohon koreksinya jika penulis ada kekeliruan pendapat dan informasi.

Semoga berguna…

Posted in General, Personal