Hari Guru 2016

Foto dari google

Hari ini 25 November 2016, tak biasanya Hari Guru terasa gemuruh ramai di daring, entah saya yang ga gaul ditahun tahun sebelumnya atau memang tahun ini ramai di daring, atau ada agenda lain terkait ramainya ucapan ini.

Foto dari google

Entahlah, lupakan saja kait mengait agenda apapun ke Hari Guru, guru sebagai sosok yang dinilai menjadi pahlawan tanpa tanda jasa kini sudah “berubah” menjadi sebuah profesi layaknya buruh pabrikan, hanya dibedakan dengan “dimanjakannya fasilitas” negara berupa tambahan tunjangan (bagi yang memenuhi kriteria administrasi), sehingga kompetisinya adalah melengkapi semua kebutuhan administrasi negara.

Padahal dibelahan sisi sana sini, masih banyak guru yang murni tak pernah berpikir mendapatkan tunjangan apapun dari negara dan dengan kreatifitas terbatas mereka “habis-habisan” mengabdi pada masyarakat. Namun demikian bukan semua salah guru, negara yang menjanjikan hal itu, negara memperlakukan guru berubah menjadi sebuah profesi, bahwa betul guru harus layak hidup, namun juga harus hati-hati dan cerdas memberikan “fasilitas” kepada para guru ini, karena dari hasil karya tangan-tangan guru-lah esok lusa negara ini dibangun tak henti-henti.

Menghidupkan kembali naluri guru sebenarnya adalah pekerjaan rumah bagi negara secara persisten, karena jika guru disibukan kompetisi kelengkapan administrasi negara, guru hanya akan bisa mengajar dan “khilaf” akan mendidik, padahal esensi naluri guru adalah mendidik, sehingga efeknya kita akan banyak dikelilingi oleh siswa penghafal bukan siswa praktisi.

Saya sering berujar ke lingkungan guru, menghukum dengan nafsu/mengkel/dendam itu bisa kapan saja, tapi menghukum siswa dengan doa, tidak bisa dilakukan setiap saat, karena guru harus meredam dulu semuanya, setidaknya itu gambaran sederhana ini menjadi acuan apa beda mengajar dan mendidik. Lihatlah para kyai-kyai pesantren saat mendidik santri-santrinya, begitu sabar, berproses, menemani, membekali, memberi kepercayaan.

Ini hanya sebuah opini untuk memberi gambaran bahwa bagaimana guru begitu memiliki nilai dari apapun, bukan sekedar sebuah profesi.

Selamat hari guru, maafkan guru, jika sampai hari ini muridmu ini belum bisa menjadi yang bisa guru banggkan.

Terima kasih tak terhingga selamanya untun para guru, pendidik sejati, pembentuk negeri ini.

Posted in General, Personal Tagged with: , , ,